Benarkah Manusia Bisa Berjalan Tegak Karena Adanya Panas ?

Manusia Berjalan Tegak Karena Panas

Jika Anda menganggap musim kemarau ini amat panas, bersyukurlah karena Anda tidak tinggal di Turkana Basin, Kenya. Temperatur harian rata-rata di wilayah itu mencapai angka di atas 32 derajat Celsius, bahkan jauh lebih tinggi, sepanjang tahun, selama 4 juta tahun terakhir.


Tingginya temperatur di kawasan yang dianggap sebagai asal mula evolusi manusia itu diyakini punya peran dalam evolusi manusia. Benjamin Passey, peneliti kebumian di Johns Hopkins University, menyatakan, kebutuhan untuk tetap merasa sejuk di wilayah itu dianggap sebagai penyebab mengapa manusia belajar untuk berjalan tegak, hilangnya rambut tebal yang tumbuh rapat membungkus tubuh nenek moyang mereka, serta kemampuan untuk berkeringat lebih banyak.

"Pesan yang kami peroleh adalah kawasan ini, situs penting tempat ditemukannya fosil yang mendokumentasikan evolusi manusia, adalah daerah yang amat panas untuk masa yang sangat lama, bahkan sepanjang periode antara 3 juta tahun lalu dan kini ketika zaman es dimulai dan iklim global mendingin," kata Passey, staf pengajar di Morton K. Blaustein Department of Earth and Planetary Sciences di Zanvyl Krieger School of Arts and Sciences, universitas itu.

Pada laporan yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, Passey mengatakan kesimpulan itu memberikan dukungan terhadap apa yang disebut sebagai hipotesis termal evolusi manusia. Hipotesis itu menyatakan bahwa manusia purba yang menjadi nenek moyang manusia modern memperoleh manfaat evolusioner dalam berjalan tegak karena hal itu membuatnya merasa lebih sejuk, lantaran udara di dekat permukaan tanah jauh lebih panas pada siang hari daripada udara yang terletak beberapa kaki di atas tanah.

Berjalan tegak membuat massa tubuh yang terkena cahaya matahari jauh lebih sedikit daripada ketika mereka merangkak dengan keempat kaki. Hipotesis itu juga menyatakan bahwa kemampuan mengatur temperatur tubuh melalui keringat adalah bentuk adaptasi yang sangat berguna untuk hidup di daerah beriklim hangat.

"Untuk mengetahui apakah hipotesis itu benar atau keliru, kami harus mengetahui apakah kondisi di sana pada saat terjadinya perubahan itu benar-benar panas," katanya. "Jika memang panas, hipotesis itu layak dipercaya. Jika tidak, kami akan menyingkirkan hipotesis tersebut."

Mengevaluasi bagaimana iklim Turkana Basin purba, yang hingga saat ini masih tetap "membara", sangat sulit dilakukan karena hanya sedikit cara untuk menentukan temperatur purba. Upaya untuk mendapatkan temperatur 4 juta tahun lalu lewat analisis fosil serbuk sari, kayu, dan mamalia tidak memuaskan, kata Passey, karena fosil itu hanya mengungkapkan informasi tentang tumbuhan dan curah hujan, bukan suhu masa lalu.

Sebagai mantan anggota tim California Institute of Technology yang mengembangkan pendekatan geokimia terhadap masalah temperatur, Passey memanfaatkan cara tersebut. Metode itu mencakup penentuan temperatur mineral karbonat yang terbentuk secara alami dalam tanah, termasuk batuan sedimen yang disebut "caliche" dan hard pan, atau lapisan tanah dengan kerapatan tinggi yang biasanya ditemukan di bawah lapisan tanah teratas.

Temperatur mineral itu diukur dengan menguji "gerombolan" isotop langka. Isotop adalah atom-atom dari unsur sama yang memiliki massa berbeda karena perbedaan jumlah neutron yang mereka miliki.

Dalam kasus karbonat tanah yang umum dijumpai di Turkana Basin, jumlah karbon-13 yang berikatan langsung dengan oksigen-18 langka menghasilkan catatan temperatur selama awal proses pembentukan mineral itu. Analisis itu memberi tahu para ilmuwan bahwa karbonat tanah di daerah itu terbentuk pada temperatur tanah rata-rata, antara 30 dan 35 derajat Celsius.

Temuan itu mengarahkan mereka pada kesimpulan bahwa rata-rata temperatur udara harian bahkan jauh lebih tinggi, atau dengan kata lain, temperatur di wilayah barat laut Kenya pada masa itu sangat panas. "Kami telah memperoleh bukti bahwa habitat di Afrika Timur purba jauh lebih terbuka, yang juga secara hipotetis bagian dari skenario untuk pengembangan bipedalisme (memiliki dua kaki) dan evolusi manusia lainnya, tapi kini kami punya bukti bahwa di sana panas," kata Passey. "Berdasarkan itu, kami bisa mengatakan bahwa hipotesis termal layak dipercaya."

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

Populer